Jumlah Pengujung

Kamis, 14 April 2011

Tanggapan PM Turki, Edrogan terhadap masuknya Turki kedalam Uni Eropa dan permasalahan Libya

Dalam sebuah pertemuan dengan Majlis Dewan Uni Eropa di Strastbrough beberapa waktu yang lalu. PM Turki, Reccep Tayyip Edrogan berbicara tentang kekhawatiran nya terhadap konflik di Libya bisa menjadi Irak ataupun Afghanistan yang selanjutnya. Dalam Pertemuan itu juga, Erdogan menekankan tentang Negara Turki yang sangat sekuler dan Demokatis walaupun dengan penduduk yang sebagian besar Muslim.

Edrogan juga menyatakan bahwa negara nya telah membuat beberapa langkah ekonomi dan politik, serta kritis terhadap beberapa kebijakan negara eropa yang menentang Turki menjadi bagian dari Eropa. Edrogan juga menambahkan bahwa negara nya tidak mudah untuk dimanfaatkan oleh kepentingan-kepentingan negara-negara Eropa.

Edrogan mengatakan bahwa negara nya telah cepat pulih dalam keterpurukan ekonomi, tingkat pertumbujan ekonomi Turki telah mencapai tahap yang mengesankan,di tambah faktor strategis negara nya membuat Turki patut menjadi bagian terpenting dalam Uni Eropa.

Seperti kita ketahui, Turki telah mendapatkan status calon negara Eropanya sejak tahun 2005, Namun sampai saat ini, Negosiasi untuk menjadikan posisi turki berada didalam Eropa itu masih berjalan alot dan lambat.

Beberapa alasan dari negara-negara besar di Uni Eropa , seperti Austria, Perancis, dan Jerman untuk tidak bersedia menyetujui turki sebagai anggota Eropa adalah karena disebabkan tindakan Ankara yang tidak mengijinkan kapal-kapal dagang Yunani dan Siprus untuk memasuki pelabuhannya. Selain itu situasi hak asasi manusia disana masih tergolong buruk.

Edrogan juga mengatakan bahwa negara nya siap untuk keadaan yang multikulturalisme seperti halnya negara di Eropa yang lain. Selain itu, Edrogan juga menyayangkan masih adanya situasi yang kurang demokratis didalam tubuh Enu Eropa terkait pengusiran tentara Perancis dari Roma beberapa waktu yang lalu.

Dalam permasalahan kebebasan pers, Edrogan menyangkal bahwa negara nya tidak menjunjung tinggi arti kebebasan pers. Namun Edrogan mengatakan bahwa para wartawan yang ditahan di negara nya terkait karena masalah pemberitaan mereka tergolong Subversif kepada pemerintah. dan Bukan merupakan pemberitaan biasa. Edrogan bahkan mengatakan, bahwa para wartawan tersebut bukan ditangkap karena kegiatan jurnalisme mereka. Namun lebih kepada tindakan pengkudetaan yang dilakukan oleh wartawan turki.

Dalam menyikapi permasalahn di Libya, Edrogan mengatakan bahwa itu adalah tindakan yang bisa dikategorikan sebagai upaya "Rasisme" oleh bangsa Eropa. Eropa telah menutup mata hati dan pendengaran mereka terhadap suara-suara kebebasan dari Afrika Utara dan Timur tengah.

Edrogan mengatakan bahwa , awal mulanya Ankara tidak menyetujui kebijakan zona Larangan terbang yang diberikan Eropa kepada Libya. dan saat ini pun Turki bekerja sama dengan beberapa negara di Afrika Utara dalam upaya perdamaian di Libya.

Edrogan menganggap, NATO seharusnya sadar terhadap upaya-upaya perdamaian di Libya. Jangan sampai Afghanistan dan Irak menjadi terulang di Libya. Karena itu akan sangat membuka luka yang mendalam bagi Umat Muslim.

Ketika ditanya tentang sikap nya terhadap kerusuhan di berbagai daerah lain, terkait dengan protes massa di Suriah. Edrogan hanya mengatakan bahwa dia sangat menikmati kedekatan hubungan nya dengan rezim Penguasa disana. Perdana Menteri turki itu pun menyatakan bahwa, perlunya akal sehat untuk Perang.

Sangat Realis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar