Jumlah Pengujung

Kamis, 14 April 2011

Ketidak-sepahaman Pakistan dan AS menyangkut persoalan Intelijen.

Kepala Inter Services Intelligence Pakistan (ISI) beberapa waktu yang lalu mengadakan pembicaraan dengan AS menyusul rencana Pakistan untuk mengurangi jumlah pasukan AS di negara itu.

Seorang juru bicara Badan Intelijen Pusat AS (CIA) Pada 11 april yang lalu mengataan bahwa pembicaraan antara Letjen Ahmed Shuja dengan Direktur CIA Leon Panetta asalah upaya untuk memajukan kerjasama militer kedua negara.

Pertemuan selama 4 jam ini dilakukan setelah terjadinya serangkaian persitiwa yang tengah di sorot akhir-akhir ini, dimana adanya perbedaan pendapat antara kedua belah pihak (Pakistan - AS ) tentang bagaimana menyikapi perlawanan pemberontak ekstremis Islam di Pakistan dan negara tentangganya Afghanistan.

Laporan media mengatakan, bahwa Islamabad sedang mencari jalan keluar menyangkut upaya penarikan lebih dari 300 kesatuan militer AS di pakistan. Ini merupakan upaya pengurangan yang sangat signifikan. Karena angka pasukan yang ditarik mencapai 25 % dari seluruh pasukan khusus AS di Pakistan.

Mantan Jendral militer Pakistan, Talat Masood, yang sekarang menjadi analis pertahanan di Pakistan mengatakan, bahwa salah satu agen CIA Raymond Davies yang menembak mati 2 orang Pakistan di timur kota Lahore pada bulan Januari yang lalu telah dibebaskan. Menyusul sejumlah uang yang telah diberikan dari CIA kepada keluarga orang tersebut. Jumlah uang tersebut diperkirakan mencapa 2 Juta US$.

Masood mengatakan bahwa Insiden tersebut sangat menunjukkan bahwa perselisihan antara Pakistan dan AS semakin terlihat jelas. Banyak pihak menganggap upaya melawan terorisme oleh AS ini malah akan membuat kedaulatan Pakistan menadi goyah.

Masood menambahkan, bahwa pemerintah Pakistan dan ISI terlalu lunak terhadap kebijakan AS sehingga dikhawatirkan, jika keadaan ini berlangsung terus-menerus, semakin lama akan menggerus kedaulatan Pakistan itu sendiri. Untuk itu, ISI perlu membuat kebijakan yang sedikit lebih keras terhadap AS. dimana upaya nya seperti pengurangan jumlah pasukan AS di Pakistan.

Namun disisi lain, Pihak gedung putih telah menyatakan rasa pesimistis mereka terhadap pakistan, Bahwa Pakistan akan mampu meredam setiap gerakan terorisme di negaranya itu dengan mandiri. AS menganggap, Pakistan belum memiliki rencana yang jelas dalam proses Perang terhadap Terorisme ini.

Mantan Brigadir Jenderal Militer Pakistan, Asad Munir, mengatakan bahwa bagaimanapun Pakustan dan AS harus menjadi sekutu terdepan yang memerangi terorisme di kawasan itu. Munir juga menegaskan perlunya kejelasan menyangkut batas-batas wilayah tugas antara Pakistan dan AS di wilayah itu, agar tidak lagi muncul masalah "Missunderstanding" antara keduanya.

Munir adalah seorang mantan pejabat senior di ISI, telah bekerja lama di Provinsi Pakhtunkwa Khyber Volatile dan wilayah sekitarnya. Ia mengakui bahwa CIA dan ISI memiliki perbedaan pandangan terhadap isu-isu internal seperti serangan di Mumbai pada 2008 lalu, tetapi dia menjelaskan bahwa Pakistan dan AS masih berada di satu pihak yang sama.

"Saya pikir mereka memiliki tujuan yang sama. Kedua belah pihak tidak mampu untuk memutuskan hubungan mereka atau menempatkan blok pada persoalan intelijen." Kata Munir.

Namun, walau bagaimana pun juga perbedaan pendapat antara Pihak Pakistan dan AS, ini membuktikan bahwa negosiasi bilateral antara keduanya masih tergolong sangat sensitif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar