Seoul, 13 November 2010
Sejak penyerangan Korea Utara terhadap perbatasan mereka dengan Korea Selatan di pulau Yeonpyeong pada 23 November yang lalu. Banyak warga Korea Selatan yang marah dan menganggap respon Korea Selatan atas penyerangan ini terlalu lemah. Serangan yang menewaskan empat orang ini meminta perlawanan yang lebih keras dari Kelompok pemberontak Korea Utara.
Kelompok yang menamakan diri mereka sebagai Front Pembebasan rakyat ini menyampaikan sebuah petisi kepada Kementrian Pertahanan Korea Selatan yang inti nya meminta dukungan baik moril maupun materil kepada mereka untuk menjadi kekuatan khusus yang akan mengakhiri pemerintahan komunis di Korea Utara.
Kim Seong Min sebagai Ketua Organisasi ini menegaskan, Jika mereka diberi senjata untuk melawan pemerintahan Korea Utara, maka mereka akan berada di garis depan dalam penghancuran pemerintahan Komunis Korea Utara. Park Chun Guk juga mengatakan, sebagai mantan tentara khusu Korea Utara, ia memahami betul pola dan taktik militer Korea Utara.
Park juga menyampaikan rincian unit yang menyerang Yeongpyeong bulan lalu, dan mengatakan bahwa banyak tentara Korea Utara dilatih untuk menyusup disekitar wilayah Korea Selatan untuk menetralisir wilayah-wilayah penting, termasuk pelabuhan udara dan laut Korea Selatan.
Para pemberontak Korea Utara memprediksikan, akan banyak lagi serangan Provokasi dari Utara untuk Selatan. Ini adalah upaya demonstrasi kekuatan dari calon pengganti pimpinan Korea Utara yang baru, Kim Jong Un. Sebagaimana yang dilakukan oleh ayah nya pada dekade 80an yang lalu.
Perang dua Korea secara teknis telah berlangsung sejak tahun 1953 lalu, ketika konflik berakhir dengan Gencatan senjata tanpa adanya kesepakatan damai. Hingga saat ini ketegangan dua korea ini tetap berlangsung dalam bentuk upaya-upaya provokasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar